2 - 02 -2010
Direktur Riset dan Pemasaran Sucorinvest Adrian Rusmana memprediksikan, faktor negatif eksternal yang kuat, masih akan membayangi pergerakan IHSG. Apalagi imbal hasil di pasar berkembang cukup tinggi, lebih dari 100%.
Hal ini membuat potensi profit taking makin besar. “Indeks pun akan tertekan dalam jangka pendek, membuat indikator teknikal mengarah ke 2.523,” ujarnya ketika berbincang dengan news-complete.blogspot.com , Senin (1/2), petang.
Selain itu, imbuhnya, sentimen negatif juga berasal tingkat inflasi Januari yang mencapai 0,84%. Angka ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar. “Jika ditambah dengan kenaikan harga lainnya seperti tarif dasar listrik (TDL), maka akan terjadi ledakan inflasi yang lebih tinggi ketimbang angka saat ini,” paparnya.
Menurutnya, investor memang sudah mengkhawatirkan tingginya inflasi Januari. Namun, tak seperti negara Asia lain, yang telah melakukan pengetatan likuiditas. Di Indonesia ada potensi pembalikan dana. “Ini semua karena ledakan tersimpan itu tadi,” tukasnya.
Menipisnya likuiditas juga menjadi perhatian tersendiri, mengingat perbankan AS mengurangi transaksi hedge fund di sektor komoditas dan derivatif. Padahal kedua sektor itulah yang membuat pasar bergairah.
Akibatnya, pasar pun mulai beralih dari high risk ke low risk. Yakni dari pasar saham ke surat utang, atau dari saham second liners naik lagi ke blue chips. Demikian juga dari pasar maju ke pasar berkembang. “Permainan pun terbatas di pasar yang aman, sehingga fluktuasi kecil,” lanjutnya.
Di tengah kondisi pengetatan likuiditas, Adrian merekomendasikan investor untuk bermain aman, dengan mengakumulasi saham-saham seperti PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT Astra Agro Lestari (AALI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). “Ini termasuk saham aman, karena blue chips dan berkapitalisasi besar,” ungkap Adrian.
Adrian juga menyarankan investor mengurangi bobot di saham sektor komoditas. Sebab sektor ini akan mengalami masalah dengan likuiditas seiring berkurangnya aktivitas hedge fund. “Selama ini, investor memang bermain di marjin. Tapi kini marjinnya dibatasi, sehingga mereka harus menarik dana dan melakukan profit taking,” pungkasnya.
Pada perdagangan Senin (1/2), IHSG ditutup melemah hingga 23,247 poin (0,89%) ke level 2.587,549. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup sepi, dimana volume transaksi tercatat sebesar 4.529 kali, senilai Rp 3,136 triliun, dengan frekuensi 64.821 kali. Sebanyak 68 saham naik, 115 saham turun dan 68 saham stagnan.
Beberapa emiten yang melemah antara lain PT Bukit Asam (PTBA) turun Rp500 menjadi Rp16.700, dan PT Indocement (INTP) turun Rp450 menjadi Rp13.050. Sedangkan emiten-emiten yang menguat antara lain PT Unilever (UNVR) naik Rp150 menjadi Rp11.450, PT Gudang Garam (GGRM) naik Rp100 menjadi Rp24.100, PT Delta Dunia (DOID) naik Rp80 menjadi Rp1.870, dan PT Kalbe Farma (KLBF) naik Rp60 menjadi Rp1.600
Tidak ada komentar:
Posting Komentar